JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagai aplikasi peta digital, layanan Waze dapat dikatakan cukup unik. Pasalnya, peta yang ditampilkan tidak hanya dikerjakan oleh tim dari Waze saja, tetapi juga membuka diri untuk dikembangkan bersama-sama dengan penggunanya.

Tujuannya, dengan kontribusi dari pengguna, data dan informasi yang ada di peta Waze semakin akurat dan juga lengkap. Sebagai gambaran, apabila Waze menampilkan nama suatu jalan dan ada yang mengetahui bahwa nama jalan itu salah, pengguna bisa langsung berkontribusi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Nah, pengguna yang mengontribusikan waktunya untuk mengedit dan melengkapi peta di aplikasi itu teryata disediakan sebuah wadah khusus oleh Waze. Tempat berkumpulnya yang gemar untuk berkontribusi itu dinamakan Waze Map Editor.

Menurut Christian Iskandar, salah satu Waze Map Editor asal Indonesia, untuk bergabung ke komunitas ini tidak sulit. Pengguna hanya perlu mendaftar di situs www.waze.com/editor dan bisa langsung mengedit peta yang sudah ada.

“Sistemnya crowdsource, semua orang bisa bergabung,” beber Christian.

Level yang berbeda

Meskipun begitu, bakal ada tingkatan atau level dari para editor. Level terkecil adalah 1 dan level tertingginya adalah 6. Setiap level tersebut nantinya diberikan hak mengedit yang berbeda.

Level paling bawah hanya diizinkan mengedit radius sejauh 1 mil, sementara itu level tertinggi sudah diberi hak akses untuk mengedit peta di satu negara tertentu.

Setiap perubahan yang ada di peta sendiri nantinya memerlukan approval atau persetujuan dari level di atas pengguna. Sebagai contoh, apabila ada satu tempat yang diedit oleh pengguna level 2, maka yang bisa memberikan approval adalah pengguna dengan level sama atau lebih tinggi.

Mengapa tidak semua level bisa memberikan persetujuan? Menurut Christian, hal tersebut untuk mencegah ada yang berbuat iseng atau usil di Waze.

“Oleh karena itu, hanya Waze Map Editor level 6 yang bisa mengedit jalan tol. Bayangkan, jika ada yang baru level 1, kemudian secara tidak sengaja menghilangkan jalan tol dari peta, bisa fatal kan?” ujar Christian kepada KompasTekno di Jakarta, Selasa (17/3/2015).

Saat mengedit peta dan memberikan laporan di sepanjang jalan, Wazer, sebutan pengguna Waze, akan mendapatkan beberapa poin tertentu. Nantinya, poin tersebut yang akan digunakan sebagai parameter level satu orang pengguna.

Sebagai contoh, satu pengguna bisa naik ke level 2 apabila memiliki poin sebanyak 1.000, 25.000 untuk masuk level tiga, dan seterusnya. Butuh poin sebanyak 500.000 untuk ada di level teratas.

Selain itu, setiap Waze Map Editor yang berada di level atas berkesempatan untuk menjadi jawara di setiap negara masing-masing. Pengguna yang berhasil menjadi jawara akan dinamakan Local Champ. Pengguna ini dipilih langsung oleh pihak Waze.

Langkah terakhir adalah dengan menjadi Global Champ. Itu artinya, Wazer itu dipilih karena telah berkontribusi bagi Waze secara global.

“Sebenarnya (apabila sudah mendapat gelar Global Champ) tidak ada insentif atau benefit yang kami dapatkan. Namun, keuntungannya, bisa masuk ke global forum dan berbincang dengan global champ lain,” kata Christian.

 

Apa saja yang bisa diedit oleh para editor ini?

Awalnya, peta yang ada di Waze sebenarnya tidak menampilkan informasi apapun. Hanya kota-kota besar yang sudah memiliki informasi basic. Nah, tugas para editor ini lah untuk menamakan jalan yang masih belum bernama.

Jika nama suatu jalan dianggap salah, para editor peta tersebut bisa langsung mengganti nama dengan yang benar. Tentunya, jika ada satu jalan yang belum diberi nama, editor bisa langsung memberi nama. Editor juga bisa memberitahukan, apakah suatu jalan memiliki sistem satu arah atau dua arah.

Bila di suatu wilayah masih belum ada jalur jalanan, Waze Maze Editor dapat menggambar jalur tersebut.

Sistem itu sendiri biasanya memang diperbarui oleh sistem. Namun, ada beberapa data yang memerlukan sentuhan manusia agar semakin akurat.

“Yang belum ada (jalan) ya kita bikin. Kalau ada yang salah, kita benerin,” kata Christian.

Jumlah editor masih sedikit di Indonesia

Masih menurut Christian, hingga saat ini sudah ada sekitar 50 Waze Map Editor yang aktif di Tanah Air. Semuanya tersebar di berbagai pulau di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Christian mengaku, jumlah tersebut masih sangat sedikit, masih sangat sulit untuk memperlengkap peta di Indonesia.

Oleh karena itu, ia berharap, makin banyak orang yang bergabung ke komunitas tersebut. Dengan semakin banyaknya orang, informasi yang ada tentunya bisa semakin banyak dan lengkap.

“Harapannya, semakin banyak editor,” pungkas Christian.

sumber : kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here